banner 468x60

Mengenal Lebih Jauh Komunitas “Madoera Boekoe”

banner 160x600
banner 468x60

Pembina Komunitas "Madoera Boekoe" Set Wahedi Setelah diwawancarai. (Foto: Faidi)

 

LIPUTANMADURA.COM, BANGKALAN -- Komunitas Budaya “Madoera Boekoe” mengajak Masyarakat memahami Madura pada sisi lain.

Budaya tradisional Madura seakan tak terlihat gaungnya kembali. Generasi penerus yang diharapkan ternyata enggan memahaminya, hal ini dapat dilihat dari kebiasaan mereka yang kebarat-baratan dan tak acuh pada budayanya sendiri.

Derasnya arus globalisasi menjadi faktor utama terkikisnya budaya Madura saat ini. Minimnya kesadaran Masyarakat akan pentingnya mempertahankan budaya lokal justru menambah kekhawatiran banyak kalangan akan banyaknya generasi yang tidak mau tahu kepada budayanya sendiri.

Untungnya masih ada penggiat budaya yang masih sadar atas kondisi saat ini.
Disinilah Komunitas “Madoera Boekoe” hadir.

Komunitas ini bergerak di dunia literasi, penelitian, penerbitan, dan wirausaha buku yang berhubungan dengan budaya.

Komunitas yang dimotori Set Wahedi, dia mengajak Masyarakat untuk memahami budaya Madura yang unik.

Kedepan, komunitas ini konsisten dengan gerakannya untuk terus menyadarkan Masyarakat kembali mengingat budayanya sendiri, salah satunya dengan flasback pada permainan tradisional masa kanak-kanak dulu. Hal ini dimaksudkan agar Madura tidak hanya dikenal dengan carok dan kerapan sapinya saja.

Set wahedi saat ini tercatat sebagai Dosen Bahasa dan Sastra di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura.

Dosen muda yang energik ini menjadi penggerak utama komunitas “Madoera Boekoe”. Ia merasa miris atas pembacaan orang-orang tentang Madura, ia juga mengajak masyarakat Madura tetap seperti orang Madura sebagaimana mestinya.

“Geli ketika melihat pembacaan mereka tentang Madura. Mereka bicara madura hanya berdasarkan asumsinya saja,” Ujar pria kelahiran Sumenep itu. (Faidi)

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Mengenal Lebih Jauh Komunitas “Madoera Boekoe”"